Hallo temen-temen semua, saya disini mau sedikit cerita tentang pengalaman ketika kuretase dan di diagnosa BO. Apa sih BO itu? Booking Out? Bukan, Booking Online? Bukan juga, Booking Order? Bukan banget,. Hehee.. BO disini adalah Blighted Ovum atau yang biasa orang awam bilang itu hamil kosong. Hamil kosong terjadi saat sel telur yang sudah dibuahi tidak berkembang menjadi embrio. Pada kasus ini, kantung ketuban sudah terbentuk dan tumbuh namun embrio tidak berkembang. Nyesek kan ya kalau tahu kita hamil dan ternyata janin tidak berkembang, hiks..hiks..
Kenapa bisa terjadi hamil kosong? Hamil kosong terjadi bukan karena kesalahan apa yang kita makan atau melakukan kegiatan yang bisa menyebabkan keguguran. Jadi, stop menyalahkan diri sendiri atau orang lain apalagi suami. Kamu sih hamil tetap melakukan hubungan suami istri! Kamu sih hamil tapi makannya sembarangan! Kamu sih hamil tidak hati-hati kalau jalan! kamu sih nggak periksa ke dokter obgyn! atau apalah itu kalimat dari orang-orang disekitar kita. Itu semua bukan penyebab hamil kosong. Hamil kosong terjadi karena kelainan kromosom, kromosom yang tidak bagus Entah apa itu dalam bahasa kedokteran, saya hanya tahu secara umum. Dan menurut beberapa banyak kasus hamil kosong biasanya terjadi ketika kehamilan menginjak usia 8 sampai 10 minggu.
Nah..berdasarkan pengalaman saya, semua akan saya tuangkan dalam blog “Catatan Afriyanti”. Masih ingat betul waktu itu ketika saya hamil dan mengalami flek, bukan flek sih ya karena yang keluar itu jelas darah tapi sedikit. Meski sedikit tetap khawatir dong ya, langsunglah telepon suami. Lalu periksalah ke bidan kebetulan dekat dari rumah, saat itu dikasih resep obat penguat kandungan. Meski sudah minum obat penguat kandungan, darah masih saja keluar. Pagi harinya pergilah saya dan suami ke salah satu RS swasta di Semarang. Ketika di USG dan dokter bilang “mana janinnya? Ini kosong” saya dan suami langsung diam, shock dan entahlah perasaan tidak karuan waktu itu. Disitu dokter cuma bilang “ini hamil kosong bu,janin ibu tidak berkembang” saya ga mau menyebutkan nama dokter itu karena saya kurang nyaman dengan cara komunikasi dokter tersebut dengan pasien. Dokter bilang untuk dilakukan kuretase. Hmmm...oke baiklah pupuslah harapan saya untuk hamil ketika itu. Nangis? Pasti. Meski sudah saya tahan untuk ga nangis tapi ga tetep aja nangis. Engga mungkin engga nangis donk, hatinya hancur seperti itu.
Tiba dirumah, nangis semakin engga karuan, suami pun ikut nangis sambil peluk saya padahal suami jarang banget nangis bahkan belum pernah saya liat suami nangis, semakin menjadilah saya nangisnya. Kita saling intropeksi kenapa bisa terjadi seperti itu. Kesalahan apa yang kita lakukan sampai terjadi hamil kosong ini. Mungkin memang Allah SWT belum mengijinkan kita untuk mempunyai baby terlebih dahulu. Sempat berpikir untuk priksa ke dokter lain waktu itu, tapi melihat darah yang keluar semakin banyak, saya urungkan niat itu dan tetap pasrah untuk proses kuretase sesuai anjuran dokter yg tadi.
Keesok harinya, saya diantar suami dan keluarga ke RS swasta tadi untuk dilakukan tindakan kuretase. Perasaan sedih, takut bercampur aduk. Sedih karena harus kehilangan janin yang sudah dikandung selama 8 minggu. Takut proses kuretase, karena temen pernah cerita proses kuret itu lebih menyakitkan daripada melahirkan, sudah saya bayangkan itu sisa darah yang belum keluar ada dirahim dibersihkan melalui vagina. Huhuuu.... ngeri ya..
Tapi jangan ngeri dulu, ternyata proses kuretase itu dibius total, tapi pengalaman dua temen saya di RS yang berbeda-beda tidak dibius. Alhamdulilah di RS tempat saya melakukan kuretase dibius total. Sebelum dilakukan proses kuretase, saya diminta rebahan dulu di ruang bersalin, berdampingan dengan pasien – pasien yang mau melahirkan. Disitu saya pun diminta untuk berpuasa terlebih dahulu dan diberi pil peluruh tujuanya supaya bakal janin yang ada dirahim cepat keluar.
Setelah menunggu hampir seharian, akhirnya jam 7 malam mulai dilakukan proses kuretasenya. Event pertama kali saya masuk rumah sakit dan bertemu dengan yang namanya infus dan printilanya itu, agak deg-deg an sih saat mau dibius. Terakhir sadar itu ketika perawatnya memberikan bius berupa suntikan ke tangan saya. Dan ketika sadar saya sudah dikelilingi keluarga dan suami yang berusaha membangunkan saya. Dengan kesadaran yang belum 100% pulih dan sulit sekali untuk membuka mata, saya bisa merasakan rasa sakit disemua tubuh lebih tepatnya seperti rasa kram terutama dibagian kaki dan perut. Sebenarnya proses kuretasenya tidak begitu lama, itu kata perawatnya sih ya, kurang lebih 1 jam gitu. Sekitar jam 10 malam saya sudah benar-benar sadar barulah di pindahkan ke ruang perawatan. Pagi harinya dokter mengecek kondisi saya dan memperbolehkan saya untuk pulang. Alhamdulilah akhirnya pulang juga, kataku dalam hati.
Dan itulah singkat cerita tentang pengalaman hamil kosong dari saya. Semoga bisa menjadi informasi yang bermanfaat untuk temen-temen yang membaca tulisan saya ini. Terimakasih.. Wassalamualaikum..wr.wb...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar